
Basudewanews.com – Situbondo, Hari-hari setelah pesta kemenangan, ujian kepemimpinan Mas Rio – Mbak Ulfi, akan segera dimulai. Dalam enam bulan pertama, ujian akan dimulai dari konsolidasi dan distribusi di internal.
Ada dua hal yang setidaknya, akan membuat sedikit pusing. Pertama, pembagian kue kekuasaan. Kedua, pembagian kue finansial.
Bukan rahasia, Bupati Mas Rio bukan profil yang punya akar kuat di partai. Dia adalah Bupati dari luar partai yang diusung oleh partai.
Ada dua partai besar yang mengusung, yaitu, PKB dan PPP (kita abaikan partai pengusung lainnya karena pengaruhnya tidak signifikan).
Poros dua partai besar ini, pada saatnya, akan membuktikan jika mereka adalah orang yang bisa mendikte Mas Rio. Waktu juga akan membuktikan jika politik kekuasaan tak seindah kata-kata di apel pagi.
Poros kedua setelah partai adalah kultur. Setidaknya, ada tiga poros kultur yang ber-distribusi atas kemenangan Mas Rio – Mbak Ulfi, poros barat, poros tengah dan poros timur.
Berdasarkan sejarah, lora-lora dari poros tengah ini yang kemungkinan besar akan “memberi warna” pemerintahan Mas Rio – Ulfi.
Poros ketiga, tentu saja tim asli atau relawan Rio, orang-orang yang sejak awal mensuport Mas Rio. Merela adalah loyalis yang sudah pasti juga menunggu kue kekuasaan dan kue finansial.
Tapi tekanan dari poros ini tidak besar. Mereka sudah cukup senang diberi permen-permen kekuasaan. Cukup bahagia diselipkan jadi pengawas atau Bankum di desa-desa. Walau tentu juga mengincar proyek-proyek.
Jadi, tidak harus dekat Mas Rio secara pribadi bagi ASN yang mengincar jabatan tertentu. Bisa saja melalui ketiga poros itu yang tentu tidak gratis.
Ketika ketiganya, mempromosikan orang berbeda di posisi yang sama, gesekan dimulai. Apalagi, ketika salah satu atau ketiganya memposisikan diri sebagai orang paling berjasa.
Bukan tidak mungkin sejarah berulang, orang-orang yang dari awal berjuang, adalah orang yang pertama kali terbuang.
Hal ini, juga berlaku ketika harus membagi kue finansial. Godaan terbesarnya, adalah kontraktor-kontraktor besar yang belakangan menawarkan uang segar di depan.
Sepanjang yang penulis tahu, Mas Rio juga bukan orang yang pernah di pemerintahan. Maka layak dicermati bagaimana berkuasa tanpa “ngeco’ dan congoco”.
Sebab sepanjang sejarah yang penulis tahu, nyaris tidak ada pejabat publik yang tidak menilap uang negara (soalnya ketahuan atau tidak).
Mengapa? Karena gaji dan operasional tak akan mampu mengembalikan biaya politik dan hutang-hutang politik. Bisa jadi, baru dilantik tagihan sudah berdatangan. Belum lagi harus menyiapkan modal untuk kontestasi berikutnya.
Maka jika nanti dalam perjalanannya, Mas Rio juga menerima fee proyek atau menetapkan dana untuk jabatan tertentu, tinggal tunggu waktu untuk di-Karna-kan.
Tapi ujian terdekat Bupati Mas Rio saat menjelang lebaran adalah mendamaikan APH dengan DPRD. Menjelang lebaran, adalah saat yang tepat untuk berdamai.
Apalagi pemeriksaan dana Pokir konon hanya sekedar menaikkan daya tawar.
Bupati Mas Rio akan menjadi pahlawan jika bisa meyakinkan, lebaran dengan ber-THR dana Pokir itu aman dan nyaman.
Ketidakhadiran Kajari dalam opening Situbondo Naik Kelas, bukan tanda apa-apa. Atau Mas Rio memilih bermain aman dengan menggantung nasib anggota dewan?
Penulis : Abdul Ghafur